Kritik untuk video viral
2. SMK PGRI 4 DENPASAR BALI
Di video yang kedua itu merupakan video kelulusan anak sekolah kelas 3 sma yang dilakukan pada bulan Mei tahun ini, dari video di atas itu sudah bisa di simpulkan ya, dimana perpisahan sekolah yang seharusnya menjadi acara resmi itu malah menjadi bahan perbincangan warga di media sosial Karena aksi yang tidak pantas. Memang pada zaman sekarang banyak sekolah yang membuat video angkatan sebagai kenang-kenangan pada masa-masa sekolah terutama di sma akan tetapi, pembolehan ini juga ada batas ketidak pantasannya. Di video di atas itu terdapat sejumlah siswa/i yang memakai pakaian sekolah yang sangat tidak layak di gunakan karena sangat mini dan itu bukan ciri dari peserta didik malah bisa di sebutkan seperti pakaian wanita malam yang notabene nya itu ukurannya yang pas di badan (ketat) dan sangat pendek di bagian rok nya.
Mungkin karena sekolah tersebut itu bertempatan di daerah Denpasar (bali) dimana di daerah tersebut kemungkinan besar banyak masyarakat nya yang beragama non muslim tapi, tidak menjadikan alasan bagi siswanya untuk berpakaian tidak pantas tidak selayaknya seorang pelajar, apalagi ada seorang guru di barisan tersebut yang ikut andil dalam pembuatan video angkatan tersebut. Kemudian, bukan hanya dari segi penampilan nya saja yang sangat tidak layak seperti siswa sekolah, tapi juga gerakan nya saat melakukan take video itu juga sangat tidak pantas, karena para siswi itu berjoget layaknya seorang biduan yang sedang menghibur penonton nya yang itu juga sangat tidak pantas di lakukan oleh seorang pelajar.
Akan tetapi, bukan nya malah di tegur dan di berikan peringatan untuk sekolah tersebut timbul lah video klarifikasi dari DPD RI Bali Arya Wadekarna yang mengayakan bahwasanya sejumlah video yang telah beredar di media sosial itu telah di potong oleh pihak tertentu lalu di sebarkan tanpa izin sehingga menjadi polemik warga, dan secara terang-terangan Arya Wadekarna menghimbau para masyarakat untuk tidak memperpanjang persoalan dan tetap menjaga nama baik bali sebagai tempat pariwisata. Akan tetapi saya sangat tidak setuju karena sudah jelas dari video yang beredar itu merupakan jelas video asli tanpa editan maupun potongan seperti yang disebutkan bapak Arya Wadekarna. sebenarnya memang benar menjaga nama baik daerah kita itu tidak salah akan tetapi, jika demi menjaga nama baik daerah dengan tidak memperdulikan etika dan moral para pelajar tanpa ada batasan agar terlihat viral dan terkenal padahal hal itu merupakan pencorengan nama baik pendidikan Indonesia, itu merupakan kesalahan besar. Pemerintah yang harusnya bisa membuat pendidikan yang mumpuni malah membela sekolah yang melakukan rasisme terhadap moral dan etika pelajar.
Melalui peristiwa ini hendaknya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak, baik siswa, orang tua, maupun sekolah. Siswa perlu diberikan pembinaan karakter dan pendidikan akhlak agar memahami pentingnya menghormati guru sebagai pendidik. Orang tua juga perlu lebih aktif mengawasi pergaulan dan penggunaan media sosial anak. Sementara itu, pihak sekolah diharapkan memperkuat program pendidikan karakter, memberikan konseling kepada siswa yang terlibat, serta menciptakan komunikasi yang lebih baik antara guru dan peserta didik. Penyelesaian masalah sebaiknya dilakukan secara edukatif dan kekeluargaan agar siswa dapat menyadari kesalahannya, memperbaiki perilakunya, dan tidak mengulangi perbuatan serupa di masa depan.
Demikianlah beberapa kritik dan saran saya mengenai beberapa video yang sempat viral di media sosisal, dimana video tersebut menunjukkan aksi yang kurang pantas yang di lakukan oleh para pelajar dari sekolah di indonesia. Semoga dengan kritik dan saran yang telah saya tuliskan berikut dapat bermanfaat bagi semua audiens yang membacanya dan dapat memberikan kesadaran terhadap para pelajar maupun para guru untuk lebih bijak dalam menentukan tindakan dalam penggunaan media sosial.
Komentar
Posting Komentar